Syaiful M Maghsri :: Motivator Spiritual | Konsultan Cara Kaya | Cara Sukses| Mengatasi Masalah

Home Renungan Ini Alasan Kenapa Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan

uang

Mendapatkan sejumlah besar uang bukanlah tiket menuju kebahagiaan sejati. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan untuk Anda.

Namun mungkin menarik untuk membayangkan bahwa kita tidak perlu bekerja dan mampu membayar apa pun yang Anda inginkan. Salah satu studi terkenal di Amerika menemukan bahwa orang yang menang besar pada permainan lotere berakhir tidak bahagia jika dibandingkan dengan mereka yang membeli tiket tapi tidak menang. Tampaknya memiliki banyak cadangan uang tidak akan membuat Anda sangat lebih bahagia daripada hanya memiliki sedikit uang.

Salah satu cara untuk melogikakan hal tersebut adalah dengan menganggap bahwa pemenang lotre menjadi terbiasa dengan tingkat kekayaan mereka yang baru, dan hanya menyetel ulang dasar tingkat kebahagiaan mereka – sesuatu yang disebut dengan istilah “treadmill hedonis”. Penjelasan lain adalah bahwa kebahagiaan kita tergantung pada bagaimana kita merasa relatif terhadap keadaan rekan-rekan kita.

Jika Anda menang lotre Anda mungkin merasa lebih kaya daripada tetangga Anda, dan berpikir bahwa pindah rumah ke lingkungan yang baru akan membuat Anda lebih bahagia. Tapi kemudian Anda melihat keluar jendela dan menyadari bahwa semua teman-teman baru Anda tinggal di rumah yang jauh lebih besar. Mungkin dalam urusan kebahagiaan, menjadi kepala ular lebih membuat kita bahagia daripada menjadi ekor naga.

Tapi kebahagiaan bukanlah kualitas seperti tinggi badan, berat badan atau pendapatan yang dapat dengan mudah diukur. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan adalah hal yang kompleks, dipengaruhi kesenangan yang sederhana dalam perspektif jangka panjang. Jadi, mungkin tidaklah mengherankan kalau kita kadang-kadang mengalami kesulitan untuk memutuskan melakukan tindakan yang akan memberikan kita kebahagiaan jangka panjang. Karena kadang kebahagiaan jangka pendek kita yang kita pilih dari waktu ke waktu tidak selalu selaras dengan kepentingan kebahagiaan jangka panjang kita.

Baca Juga:  Puasa dan Keutamaan Rajab

Bahkan, tindakan untuk mengukur kebahagiaan bisa mengalihkan perhatian kita dari hal yang membuat kita bahagia. Sebuah studi Chicago School of Business and colleagues oleh Christopher Hsee menunjukkan bagaimana hal tersebut bisa terjadi.

Studi Hsee tersebut didasarkan pada pilihan sederhana: peserta ditawarkan pilihan untuk mengerjakan tugas-6 menit untuk mendapatkan hadiah 1 galon es krim vanila, atau mengerjakan tugas-7menit untuk mendapatkan hadiah satu galon es krim pistachio.

Dalam kondisi normal, kurang dari 30% peserta memilih mengerjakan tugas-7 menit dengan alasan utama karena mereka menyukai pistachio es krim daripada es krim vanila. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang suka es krim pistachio memiliki motivasi lebih untuk mengerjakan tugas yang lebih lama untuk mendapatkan kegemarannya.

Untuk mendapatkan hasil yang komprehensif, percobaan tersebut diterapkan pada kelompok yang berbeda dengan hadiah yang sama tapi dengan peraturan yang berbeda. Pilihannya antara bekerja selama 6 menit untuk mendapatkan 60 poin, atau 7 menit untuk mendapatkan 100 poin. Dan dengan perolehan poin antara 50-99, peserta diberitahu bahwa mereka bisa mendapatkan satu galon vanilla ice cream. Sedangkan untuk 100 poin mereka bisa menerima satu galon es krim pistachio.

Meskipun dengan tugas dan hadiah yang tetap sama, perlakuan sistem poin secara dramatis mempengaruhi pilihan para peserta. Sekarang mayoritas peserta memilih mengerjakan tugas 7 menit untuk mendapatkan poin 100, dimana mereka berpeluang untuk mendapatkan hadiah es krim pistachio – meskipun sekitar 70% dari peserta mengatakan mereka lebih suka es krim vanila.

Berdasarkan hal ini, dan percobaan lainnya, Hsee menyimpulkan bahwa peserta memaksimalkan poin mereka dengan mengorbankan memaksimalkan kebahagiaan mereka. Pemberian poin hanya sebagai ‘media’ – sesuatu yang memungkinkan kita untuk mendapatkan hal yang bisa menciptakan kenikmatan. Namun karena poin begitu mudah untuk diukur dan dibandingkan – 100 jelas jauh lebih besar dari 60 – hal ini memanipulasi pengetahuan kita tentang jenis es krim apa yang paling kita gemari.

Baca Juga:  Renungan : Jika Anda memang lebih cerdas daripada orang lain, tunjukkan kepada mereka dengan berbagai tindakan Anda.

Jadi lain kali ketika Anda membeli tiket lotre karena jumlah hadiahnya, atau memilih makanan dengan hanya melihat harga, atau membandingkan pekerjaan dengan hanya melihat gaji, pertimbangkanlah dengan masak tentang berapa banyak hadiah taruhan, jenis makanan, atau pekerjaan yang benar-benar akan memberikan Anda kebahagiaan, daripada hanya mempertimbangkan angka dan harga sebagai bahan utama pengambilan keputusan.

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, dan alasan utama uang tidak bisa membeli kebahagiaan adalah karena uang itu sendiri bisa mengalihkan perhatian kita dari apa yang benar-benar bisa memberikan kita kenikmatan dan kebahagiaan.

Jika anda Merasa banyak uang namun Hidup tidak bahagia, gelisah, dipenihu rasa cemas, dan selalu dihantui berbagai masalah. Saatnya anda untuk Berkonsultasi dengan saya agar anda merasa hidup tenang, damai dan bebas masalah. Segera Konsultasi dengan Menghubungi:

Telepon : (0274) 412 446, 0853 2727 1999,081 827 8880.

Email: [email protected]

Bagikan:

Artikel Terbaru

Cara Melunasi Hutang yang Menumpuk

Cara Melunasi hutang yang menumpuk – Mengambil keputusan berhutang biasanya dilakukan karena untuk memenuhi kebutuhan hidup. Baik untuk keperluan konsumsi, pendidikan, kondisi...