Syaiful M Maghsri :: Motivator Spiritual | Konsultan Cara Kaya | Cara Sukses| Mengatasi Masalah

Home Renungan Merenungkan Kembali Makna Idul Fitri

Seiring dengan cepatnya waktu berlalu, ternyata tanpa terasa ramadhan begitu cepatnya meninggalkan kita. Padahal kita belum maksimal menjalankan ibadah ramadhan kali ini. Kita belum maksimal membaca Al-Qur’an, belum maksimal shalat malam, belum maksimal melaksanakan shiyam dan juga belum optimal untuk melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.
Setetes air mata mengalir dari ujung mata, perasaan sedih bergemuruh dalam kalbu, Ya Allah, akankah ramadhan tahun depan, kami masih dapat bertemu lagi dengan bulan ramadhan?

Dahulu para salafuna shaleh, air mata mereka meleleh membasahi pipi dan lihyah lantaran Ramadhan pergi meninggalkan mereka. Terkadang dari lisan mereka terucap sebuah doa, sebagai ungkapan kerinduan akan datangnya ramadhan dan ramadhan :

اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَرَمَضَانَ وَرَمَضَانَ…
Ya Allah SWT, anugerahkanlah lagi kepada kami bulan Ramadhan, anugerahkanlah lagi kepada kami bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan…
Namun akankah kesedihan itu terus berlarut-larut, Dan haruskan kita bersedih, sedangkan Iedul Fitri merupakan hari raya seluruh kaum muslimin, yang kita dianjurkan untuk bergembira pada hari tersebut.
Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Dimana pada hari itu, semua manusia merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.
Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah.

Idul Fitri dalam hadis lain dimaknai sebagai hari “kembali pada kesucian”, bahkan disebut kembali suci sebagaimana pada saat bayi dikeluarkan dari rahim ibunya:

عن أبى سلمة بن عبدالرحمن بن عوف قال:  حدثني أبي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: (إن الله عز وجل فرض عليكم صيام رمضان، وسننت لكم قيامه، فمن صامه إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه (اخرجه الطبراني).

Baca Juga:  10 NASEHAT IMAM HASAN ALBANNA

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan bagi kalian berpuasa di bulan Ramadhan, dan mensunatkan shalat malam, maka barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan berserah diri, akan terbebas dosa-dosanya bagaikan bayi yang dilahirkan dari rahim ibunya” (Diriwayatkan oleh Thabrani).

Seperti halnya makna tersebut, maka selayaknya kita fahami bahwa Idul fitri tak berarti mengisi hari-hari kita dengan senang-senang belaka. Padahal sesungguhnya umur kita kian berkurang. Seharusnya kita tetap mawas diri, introspeksi seberapa baik ramadhan kita, seberapa mampu ramadhan kali ini membuat hidup kita menjadi lebih baik. Dan Marilah kita berdo’a semoga Allah masih memberikan ke\ota kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan tahun berikutnya.

 

Bagikan:

Artikel Terbaru

Cara Melunasi Hutang yang Menumpuk

Cara Melunasi hutang yang menumpuk – Mengambil keputusan berhutang biasanya dilakukan karena untuk memenuhi kebutuhan hidup. Baik untuk keperluan konsumsi, pendidikan, kondisi...